“Capoeira pede paz ao som do meu Berimbau…” *canta*

Fruto da terra alimenta meu corpo

batata, milho, feijão a cacau

minha alma descansa em Deus

relaxa no som do meu berimbau*

A paz na terra amor

ai Meu Deus, que falta que faz

o homem entender o homem

uma lingua universal

pra que tanta demanda

porque tanto desigual

capoeira pede paz

ao som do meu berimbau

Canta moςa , eh…

canta rapaz

Capoeira pede paz

há muito tempo atrás

… Capoeira seeking for peace since very long time ago…

 I rest my soul in God, relaxing to the sound of my berimbau…

Mungkin sudah tidak perlu saya ulangi betapa saya jatuh cinta pada kesenian yang namanya disebut berulang-ulang dalam empat bait lagu berbahasa Portugis di atas. Tapi baiklah, saya ulangi saja. I fell in love with capoeira.

Kalau pada awalnya niat saya belajar capoeira erat kaitannya dengan menyalurkan agresi, ternyata apa yang saya dapat jauh lebih banyak dan lebih dalam daripada itu.  Mungkin ini salah satu alasan kenapa melakukan olahraga (terutama martial arts) masuk sebagai urutan pertama dalam tips mengatasi stress. Because you’ll find the root, as much as you’ll find your root.

Saya mungkin sempat lupa soal siapa diri saya sebenarnya. Eh, mungkin tidak lupa, tapi kembali tidak mengenali. Ada yang bilang setiap kehilangan atau setiap chaos dalam hidup kita menjadi awal momentum kita menemukan diri kita kembali. Itu karena kita ‘dipaksa’ untuk menjalani hari-hari di luar kebiasaan atau harapan masa lalu kita. Keluar dari zona nyaman itu sungguh tidak menyenangkan tapi sekaligus memancing rasa ingin tahu. Maka itu kita lalu terus berjalan, meskipun tidak tahu pasti apakah langkah yang kita pilih itu baik, atau apakah jalan baru kita ini benar. Mungkin karena kita punya iman, tapi sudahlah, bukan waktunya bicara iman.

Sama seperti keadaan chaos, keadaan di luar kebiasaan, pertama kali belajar capoeira saya sempat shock. Ya shock, ya kecil hati, ya takut… baru pertama kali masuk ruang kelasnya, yang saya lihat adalah beberapa anak laki-laki yang dengan serta merta bersalto ria, berdiri dengan tangan, menendang dengan kecepatan yang_bisa saya pastikan kalau kepala saya kena pasti saya tidak akan pernah bisa berbagi disini_luar biasa. Saya merasa kecut ketika membayangkan mungkin butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk bisa jumpalitan seperti itu, saya takut membayangkan jangan-jangan saya akan cedera. Tapi untuk tiba-tiba keluar dari kelas yang sudah dibuka oleh pengajarnya, rasanya tidak sopan. Jadi saya tetap tinggal di kelas itu, bersama-sama rasa takut yang saya punya. Tiba-tiba saya baru sadar kalau saya sama sekali tidak pernah ikut kelas beladiri apapun. Malah, saya lebih banyak dansa ballroom… mungkin sebenarnya tanpa sadar saya mencari homeostasis. Mungkin.

Hari pertama saya mungkin lebih sering terkesima. sebetulnya sama sekali saya tidak bermaksud untuk bengong, tapi apa daya… bagi saya, yang sama sekali belum pernah melihat secara langsung , apalagi jarak dekat, capoeira dan gerakan akrobatiknya ini sangat menciutkan nyali. Saya mustahil bisa.

Sudahlah darah rendah.

Hati galau.

Pikiran berkecamuk.

Itu aja sih.

Saya mustahil bisa.

Tapi gerakan akrobatik yang saya pelajari pertama namanya role (:dibaca hole, gerakannya mirip meroda tapi kaki tetap dibawah, diseret tipis-tipis di atas lantai). Saya diajari langsung sama gurunya karena murid-murid yang lain rata-rata sudah berproses selama lebih dari 3 bulan. Saya yang paling baru (dan dungu soal beladiri).

Step awal letakkan tangan di lantai, telapak tangan menempel sempurna ya, pelan-pelan geser kaki ke samping (kiri atau kanan tergantung), lalu setelah kaki melewati muka, kembali ke posisi kuda-kuda

rolekurang lebih begini step2nya role

Di step menjelang terakhir, saya terpeleset… hmmm, saya memang ada faktor bawaan keseimbangan yang agak buruk. Kalau lari pasti terjatuh, jalan biasa pasti nabrak, dan salah langkah sedikit bahkan pernah jatuh dengan kepala membentur lantai.

Ini, saya terpeleset di step terakhir. Step dimana seharusnya saya kembali ke kuda-kuda. Waktu terpeleset itulah, saya mengalami bullet-time. Gerakan (seolah-olah) melambat, tapi tolong jangan bayangkan The Matrix. Waktu saya terpeleset itu, saya sudah berpikir… mungkin minggu depan sebaiknya saya tidak datang lagi ke kelas ini. Mungkin sebaiknya jam segini saya pulang atau ikut kelas lain di gym ini (iya, saya kenal capoeira pertama dari gym). Mungkin saya memang jangan belajar beladiri…

Tapi ada yang menangkap dua tangan saya, sehingga saya tidak jadi jatuh, dan sekaligus membuyarkan bullet-time* yang saya alami. Dia guru saya. Orang pertama yang membuat saya lupa tujuan awal saya belajar capoeira.

Entahlah, tiba-tiba saya merasa_meskipun pusing habis role_aman. Tiba-tiba, dengan getaran yang aneh, saya merasa perlu untuk bisa melakukannya dengan baik dan benar. Bukan demi bisa pamer… tapi demi keselamatan saya. Pertama kalinya setelah mengalami chaos dan manipulasi emosi yang luar biasa, saya kembali memikirkan apa yang baik untuk saya… dan lupa semua keinginan saya yang tadinya untuk agresi dan obsesi apalah itu.

Terasa bedanya ketika kita mempelajari sesuatu itu karena marah, benci, atau obsesi yang tidak sehat… performa kita buruk karena kita gelisah dan takut tidak bisa melampaui apa yang kita obsesikan. Kita lupa bahwa berproses, dalam hal ini berolahraga ( baca: bercapoeira), adalah tentang bagaimana kita memanfaatkan potensi diri kita. Dan dalam memanfaatkan potensi diri kita, kita perlu terhubung, terkoneksi denga diri kita sendiri. Cara kita untuk lebih terkoneksi dengan diri kita bermacam-macam. Kalau untuk terkoneksi dengan orang lain bisa dengan mengobrol, curhat… dengan diri kita, kita juga bisa ‘ngobrol’. Untuk penggemar meditasi, pasti sudah tidak asing lagi, apalagi untuk penggemar refleksi (bukan pijat). Tapi untuk menjadi lebih terhubung dengan diri tidak bisa langsung ke tahap yang dalam, langsung ke perasaan atau pemaknaan (bisa sih, tapi untuk yang sudah terbiasa), dalam meditasi pun ada tahapannya. Tahap awalnya adalah pengenalan sensasi fisik. Apakah tubuh terasa tegang, lemas, panas, dingin, dll. Dan inilah yang saya kenali kembali lewat capoeira.

Dari sekian sensasi… fisiklah yang sering terabaikan. Saya sering sibuk di pikiran, terjebak sendiri di emosi-emosi yang negatif. Tanpa ada penyaluran yang sehat. Saya juga punya bawaan rentang konsentrasi yang pendek. Kata dosen saya, karena saya dulu skip merangkak. Di capoeira, saya dan teman-teman lainnya ‘dipaksa’ berjalan dengan empat kaki, maju mundur, begitu terus setiap latihan. Tapi lama-lama sepertinya ngefek juga… hehe, alhamdulillah, sekarang nggak terlalu sering bengong terdistraksi. Banyak gerakan yang melibatkan kepala di bawah, bertumpu dengan tangan, menendang tetapi ditahan, sedikit banyak memberi wawasan tentang bagian tubuh mana yang kuat, mana yang lemah, mana yang sudah luwes, mana yang masih perlu banyak dilatih. Semakin saya tahu, semakin saya merasa perlu belajar lebih banyak tentang capoeira. Mungkin ini yang membedakan kelas ini dengan yang lain, mungkin kelas lain berisi orang-orang pencari keringat untuk pembentukan. Tapi di sini, masing-masing orang berproses sesuai temponya sendiri-sendiri. Masing-masing berusaha mengenali potensinya, dan semakin mengenali, semakin menyukai diri, juga semakin mencintai capoeira.

Ketika saya belajar karena saya ingin terus merasa terkoneksi baik dengan diri sendiri maupun orang lain, saya tidak lagi merasa takut atau cemas, tapi lebih merasa senang dan jauh dari kekerasan. Bukan, capoeira ternyata bukan alat kekerasan, tapi lebih ke kesenian. Pelajaran soal kehidupan. Karena itu dalam bercapoeira juga ada musik dan lagu-lagu yang kalau diartikan punya makna yang positif soal bercapoeira dan kehidupan.

Semakin menemukan flownya, semakin masuk ke dalam penghayatannya, semakin paham bahwa sakit atau jatuh adalah proses yang alami. Tidak ada yang bermaksud melukai, semuanya berusaha bersinergi. Dan energi yang dihasilkan dari bercapoeira bersama dalam sebuah roda, kami sebut axé, semakin memancar secara positif, semakin membangun semangat untuk bercapoeira dengan baik. Terus berputar begitu menjadi infinit.

Dengan iringan suara berimbau, saya bercapoeira bersama teman-teman, bersama keluarga saya. Dan tidak ada perasaan saling ingin melukai atau membenci.

Capoeira pede paz há muito tempo atrás

Capoeira seeking for peace since long time ago!

berimbau  berimbau

*bullet-time: sebuah keadaan dimana suatu situasi serasa berhenti atau bergerak dalam kecepatan super duper lambat. Banyak yang bilang ini dipengaruhi rasa takut kita akan kehilangan suatu momen atau kesempatan.