Vai ginga!

“Vai ginga!”

Saya tidak bisa melupakan kata yang sebenarnya sudah sangat akrab, melekat di otak, masuk lewat telinga ini. Sudah hampir dua tahun saya mendengarnya sejak saya bergabung di suatu komunitas capoeira yang ada di Surabaya.

Ginga… dibaca ‘jingga’, adalah sebutan untuk step dasar di capoeira, turunan dari kuda-kudanya primeira base dan sequnda baseGinga memiliki gerakan melangkah ke kanan sebelum meletakkan kaki kiri ke belakang, kemudian ke kiri sebelum meletakkan kaki kanan ke belakang. Gerakan ini dilakukan seirama dengan toque atau irama dari alat musik khas Brazil yaitu Berimbau.

Bukan, saya bukan mau membeberkan detil-detil bercapoeira disini, mungkin lain kali saya jelaskan bagaimana kultur dari Brazil ini membuat saya jatuh cinta.

Motivasi saya untuk mulai bercapoeira sebenarnya tidak bisa dikatakan terpuji. Saya hanya ingin menuntaskan obsesi, kemarahan, kesakitan yang dua tahun lalu saya rasa. Tidak apa-apa kalau mungkin saya disebut pendendam. Saat itu saya memang marah luar biasa pada seseorang yang pernah bercapoeira (meskipun saya tidak tahu berapa lama dan sebaik apa ia bercapoeira), yang ada di benak saya hanyalah ingin menang. Menang dari apa, saya waktu itu tidak tahu, dan tidak peduli. Tapi sekarang pikiran saya sudah jauh dari itu.

Dalam capoeira, kita mengaplikasikan segala yang kita pelajari dalam roda (:hoda, artinya lingkaran) diiringi lagu-lagu capoeira yang semuanya dalam bahasa Portugis, dan sebagian besar tentang makna hidup atau tentang capoeira itu sendiri.

Dalam roda, percaya atau tidak, sedikit-sedikit karakter orang bisa terlihat. Tapi tulisan ini bukan soal orang-orang atau teman-teman yang saya amati. Nanti lah itu.

Roda adalah miniminiatur perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita mengincar, menghindar, atau mengejar, atau malah diam… (entah menunggu entah benar-benar blank)… semuanya merupakan respon-respon dalam bentuk kasar, yang tentu saja ketika kita menjalani kehidupan sehari-hari akan terlihat versi turunan-turunannya.

Karena roda adalah miniminiatur perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari, situasi atau irama yang ada di dalam roda ketika kita berjogo (one on one bercapoeira), pun bisa saya katakan mirip dengan apa yang bisa kita hadapi sehari-hari. Lawan bisa seperti hambatan yang kita temui, entah ia membuat kita terjatuh, membuat kita cedera, atau malah membuat kita mengembangkan banyak ide untuk menghindar atau memanfaatkan serangan-serangannya. Saya? Percayalah, saya masih sering kena tendang atau jatuh, entah jatuh karena tidak sempat menghindar atau karena terpeleset sendiri. Tapi roda tidak akan bubar hanya karena kita jatuh. Sama seperti hidup yang tidak berhenti ketika kita menemui suatu hambatan. Hidup terus berjalan. Roda terus hidup. Irama bisa berubah. Lagu bisa tiba-tiba pelan, atau tempo tiba-tiba bertambah cepat.

Roda menjadi tanggungjawab semua yang terlibat di dalamnya, termasuk kita, untuk tetap hidup dan berjalan. Kita harus tetap menjaga flow permainan, kita tidak boleh berhenti dan mematahkan semangat dari permainan itu.

Sama seperti hidup, kita pun bertanggungjawab untuk terus berjalan menuju tujuan kita masing-masing.

Tentu kita pernah lelah, pernah ingin menangis, pernah sakit dan merasa tidak mungkin lagi melanjutkannya.

Dalam roda ada waktu-waktu dimana kita mungkin tersungkur dan cedera. Tapi kita tidak berhenti meneruskan energi yang sifatnya infinit. Apa yang kita berikan dalam roda, itu pula yang akan kita dapat dan tercermin dari permainan kita. Bahagiakah kita? Marahkah kita? Apakah kita ingin melukai? Atau sebaliknya, ingin bersinergi dengan lawan agar keseluruhan permainan mengalir dengan indah dan malah menimbulkan semangat?

Kita tidak lantas ngambek ketika lawan lebih jago, kita tidak lantas berhenti.

Back to basic, do ginga.

“Vai ginga!”

Tetaplah bergerak, beberapa langkah sudah cukup memberi kesempatan untuk jeda dan memikirkan langkah apa yang ingin dilakukan selanjutnya agar roda tidak mati. Hendak menyerangkah? Hendak bercanda sejenak dengan gerakan-gerakan acrobacias (bagi yang ahli)? Atau hendak balanço (:balanso) untuk kembali ke ritme dan meluweskan tubuh? Semua pilihan adalah mungkin dan semuanya tergantung kita.

Sama ketika kita menghadapi permasalahan dalam hidup, kita tidak bisa menyelesaikannya ketika kita berada di layer kesadaran yang sama ketika permasalahan itu datang (kata Albert Einstein). Lantas bagaimana untuk membuka layer kesadaran yang lebih tinggi atau lebih luas? Yang pasti tidak dengan berhenti. Lakukan sesuatu, bahkan dalam diammu.

Berkembanglah, putar otak, ubah sudut pandang. Seperti ketika kita menghindari sebuah tendangan, kita bisa menghindar ke bawah dan segera counter attack, atau kita bisa menghindar dan mengambil jarak sedikit untuk counter attack yang lebih mengena. Segala dalam hidup adalah pantulan dari apa yang kita berikan. Permainan dalam roda pun adalah sebuah percakapan. Sebuah tanya jawab antar pemain. Kita tidak bisa bertanya terus, atau menjawab terus. Kita tidak bisa terus berlari dalam kehidupan, kita pun perlu mendengar kemana semesta menuntun kita, melihat pada pilihan-pilihan yang tersedia. Bahkan menciptakan pilihan jika perlu. Kita tidak berhenti.

Hidup itu tidak mudah, tapi hari demi hari tanpa kita sadari, sebenarnya kita terus berubah. Tentunya menjadi lebih baik, walaupun dalam jalan yang kita tempuh belum terlihat dimana letak kebaikan itu. Jangan berhenti. Jangan terdiam dan terpuruk jatuh terlalu lama.

Teruslah melangkah, teruslah bergerak.

Vai ginga!

Iklan